09 June 2012

H-1

Huaaa.. banyak hal yang ingin saya ceritakan. Kelak cerita ini akan jadi kenangan manis saat sukses :p
Pertama, hal yang sangat saya sadari adalah SANTAI ITU MAHAL. Selama ini saya hanya berleha-leha. Menghabiskan waktu semau saya. untuk apa saya habiskan itu terserah saya. tapi sekarang tidak, semua harus dipikirkan. Saya harus bertanggungjawab atas pilihan saya berbisnis bakso

Mama
Syukur,kenikmatan terindah setelah Iman, Kesehatan adalah memiliki mama yang saat ini saya miliki. Sungguh menyayangi saya. sudah sebesar ini pun mama saya kerap memberlakukan saya seperti anak kecil. Walo repot bagaimanapun, jika sudah berhubungan dengan mengangkat berat wlo hanya 1kg pasti mama saya melarang saya membawanya. Saya tidak tega sebenarnya, tapi larangan mama tak mampu juga saya tolak. Padahal saya tau, belanja kebutuhan ini adalah kepentingan saya. tapi mama saya benar-benar mendukung saya 1000%. Saya dulu kerap protes saat menemani mama belanja kepasar. Sukaaa banget menawar sampe titik terendah penawaran. Saya kadang kasihan sama penjualnya. Sering mengingatkan mama untuk memudahkan transaksi. Tapi kini kemampuan menawar mama membawa berkah untuk bisnis saya. bahkan mama menawar kesebuah supermarket dan berhasil. Seumur hidup baru kali ini saya mengetahui supermarket bisa ditawar. Makin kagum saya dengan mama. Disaat belanja barang-barang pun sama, banyak toko yang kami datangi. Benar-benar membandingkan harganya. Mama pintar sekali menawar dan merayu penjual. Salut saya ! mama sangat cekatan dalam memikirkan bakso tomat ini. Segala persiapan peralatan mampu mama konsep dengan matang. Bahkan hanya untuk kayu penyangga kompor besi. Selain mama, tentu ada ayah saya, dan mbak lusi. Wanda ?? jangan ditanya ! lupakan dia. bahkan saya hampir lupa punya adik atau tidak.

Tepung, Ngepel dan Pejantan tangguh

Hari-hari menjelang pembukaan saya makin akrab dengan tepung. Untuk membuat mie merah dan mie ijo. Untuk urusan ini mama saya kalah deh. Tapi untuk mengaduk dan menggiling, saya minta ampun ! pagi-pagi saya dan mama sudah kepasar. Memarkirkan motor agak jauh dari parkiran seharusnya. Karena mama sangat membenci tukang parkir. Mama berpikir tukang parkir itu makan gaji buta. Setelah menerima uangnya kabur begitu aja tanpa peduli lagi, dan kertasnya hilang tak pernah nyampe ditangan. Pagi-pagi kepasar proses tawar-menawar dimulai. Saya hanya berperan sebagai penjaga barang dan bagian menghitung. Tawar-menawar beres, saya maju untuk membayar. Begitulah seterusnya. Saya akan makin akrab dengan pejantan tangguh dipasar. Para pejantan yang hanya mengenakan celana tanpa baju, tangan kotor penuh bercak darah, suara keras melengking, badan kurus namun perut buncit, pintar menyapa dengan rayuan, tapi pelit turun harga walo hanya seribu. Saya mulai akrab dengan mereka. bahkan bau-bau’an pasar hidung saya mulai beradaptasi. Saya sulit sekali menerima bau yang kurang sedap. Saya akan langsung mual tanpa bisa ditahan. Tapi belakangan ini, dengan menutup hidung menggunakan jilbab saya mampu menahan segala bau.
Keadaan lelah seperti ini, mama seringkali menasehati saya jangan hanya mengandalkan lusi dalam pekerjaan rumah tangga. Karena dia pun capek sama dengan saya dan mama. Karena itu sudah dua malam berturut-turut saya cuci piring. Dibantu dengan mama dan lusi, dan tadi saya pun mengepel. Saya tak ingat kapan terakhir ngepel. Biasanya saya lakukan saat tidak ada mbak dirumah seperti saat lebaran. Namun sudah dua kali lebaran mbak lusi di Batam. Boleh dibilang sejak saat itu saya tak pernah nyuci piring terlebih mengepel. Maka saya tak heran jika tubuh saya memberikan reaksi berlebihan jika digerakkan sedikit. Saat ini pun tangan saya kebas namun saya paksakan untuk mengetik. Saya tak ingin kehilangan momen H-1 ini. Momen yang akan saya kenang kelak.

Wanda, sungguh anak Muda !

Saya jengkel sekali dengan adik saya. tidak bisa diandalkan untuk hal apapun. Geram rasanya. Bahkan untuk menyebarkan brosur promo bakso tomat ia malu. Astaghfirullah. Saya emosi dibuatnya. Selama kami menyiapkan baksotomat, saya ingat hanya sekali bantuan dia. menemani saya mencetak spanduk dan banner. Selebihnya tidak ada. Oiyaa ada, tadi saat mengangkut barang keruko. ITU AJA !!

Motor Scoopy, Bak Gerobak

Motor ini sungguh membantu. Ia dijadikan motor angkutan bagi mama saat kami kepasar. Muatan scoopy ini cocok untuk sebuah mobil. Sampe saya cemas jika harus menaikinya. Cemas mama tak dapat mengendalikan ini motor. Tapi Alhamdulillah, semua berjalan baik. Sabar ya scoopy. Saya akan menggantimu dengan sebuah mobil, suatu saat nanti :)

Tadi, adalah hal yang paling menyenangkan. Beberapa saat menyebarkan brosur, tiba-tiba ada dua buah motor menghampiri. Memesan bakso tomat. Sayang, kami belum buka. Opening baru akan dimulai besok. Pertanda baik neh. Tak sabar menunggu esok. Pasti akan sangaaaaatt ramai !!

Bismillah.
Salah satu impian saya terwujud, esok :)

No comments: