24 October 2012

Belajar

Banyak pelajaran yang saya dapat dari lingkungan baru saya. Bukan hanya pengetahuan tentang dunia kerja, tapi juga pembelajaran hidup yang mungkin tak pernah saya dapatkan dimana pun selain tempat ini. Belajar bagaimana menghargai setiap orang yang mungkin disepelekan, namun memiliki peran yang besar untuk kemajuan perusahaan.

Dulu, kalimat “memanusiakan manusia” hanya sebuah kalimat tanpa makna bagi saya. Tetapi setelah saya bekerja disini nyaris 3 bulan dan nyaris resign setiap bulan pulak, saya memahami kalimat itu. Memang, kadangkala kita terlalu rendah meletakkan posisi manusia dihadapan kita. Padahal, belum tentu mereka yang kita rendahkan lebih baik dari kita.
Saya belajar, bagaimana menghargai karyawan. Memberikan hak istirahat, hak makan, hak ijin sakit dan hak lainnya yang mesti mereka dapatkan. Bagaimana mungkin perut kita kenyang terisi penuh padahal karyawan yang dari hasil keringatnya kita memetik untung bisa kelaparan. Sungguh ! tragis dan dzolim.

Saya tak berniat menghakimi siapapun, menyudutkan perangai apapun. Saya lebih memilih “mengikuti alur” alias mengambil aman dalam posisi yang saat ini saya rasakan. Karena sekarang saya bukan lagi berada dikampus, yang jika hal-hal bertentangan terjadi di kampus, kita bisa menggalang suara dan menumbang biang onar dengan demo, aksi, protes dan segalanya. Namun sekarang saya berada dilingkungan, yang pemiliknya memiliki kekuasaan penuh.

Uang memang salah satu alat yang mampu melemahkan kerja otak, menutup kepekaan hati. mungkin kita menganggap bahwa uang adalah segalanya, uang yang berada di rekening kita adalah mutlak milik kita. Kita yang mengusahakannya, kita pula yang jungkir-balik mengumpulkannya. Kita lupa bahwa uang yang kita peroleh adalah pemberian dari Sang Pemurah Hati yakni Alloh SWT. Padahal bisa jadi uang yang sekarang berada ditangan kita adalah bentuk ujian bagi kita. Jika berhasil melewati ujian, Syukurlah. Kita benar-benar manusia yang derajatnya lebih tinggi dari hewan bahkan malaikat. Jika kalah oleh ujian uang, boleh jadi derajat kita lebih rendah dari hewan yang selama ini kerap digunakan sebagai sumpah serapah mulut manusia-manusia kotor.
Kekikiran, menumpuk harta hingga berlimpah, jika tak dimanfaatkan dengan baik. Justru harta ini akan menjadi boomerang. Senjata ampuh yang kapan saja bisa kembali menyerang pemiliknya. Jika sudah begini, tunggulah peringatan dari Alloh, dengan cara apa DIA akan menegur kita. Tak didunia, akherat sudah pasti menanti azabNya untuk kita. Na’udzubillah.

Ya Alloh, beri hamba harta yang BERKAH. Harta yang mampu menjadikan alasan bagi hamba untuk menjadi salah satu penghuni syurgaMU.

No comments: